Monday, October 26, 2015

BELAJAR MENURUT PANDANGAN BEBERAPA AHLI

Belajar, perkembangan dan pendidikan merupakan suatu peristiwa dan tindakan sehari-hari. dari sisi siswa sebagai pelaku belajar dan dari sisi guru sebagai pembelajar, dapat ditemukan adanya perbedaan dan persamaan. Sehingga timbullah pandangan belajar dari beberapa ahli, yaiut:

A. Belajar Menurut Pandangan Skinner


Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun. dalam belajar ditemukasn adanya hal berikut:
1. Kesempatan terjadi peristiwa yang menimbulkan respons belajar,
2. respons si pebelajar, dan
3. konsekuensi yang bersifat menugatkan respons tersebut.

pandangan skinner ini terkenal dengan teori Skinner. Dalam menerapkan teori skinner, guru perlu memperhatikan dua hal penting, yaitu (1) pemilhan stimulus yang diskriminatif, dan (2) penggunaan penguatan.

B. Belajar Menurut Gagne

Belajar Menurut Gagne merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (1) stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan (2) proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar. dengan demikian belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengelolahan informasi, menjadi kapabilitas baru.
Mneurut Gagne belajar terdiri dari 3 komponen penting, yaitu: kondisi eksternal, kondisi internal dan hasil belajar. 

C. Belajar Menurut Piaget

Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab indidvidu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.
Perkembangan intelektual melalui tahap-tahap berikut, (1) sensori motor (0;0-2;0 tahun(, (2) pra-operasional (2;0-7;0 tahun), (3) operasional konkrit (7;0-11;0 tahun), dan (4) operasional formal (11;0-ke atas).

PENDIDIKAN DAN BELAJAR

Defenisi Pendidkan:
a. Defenisi maha luas,  pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan ini memiliki karakteristik kuhusu, yaitu: (a) Masa pendidikan, dimana pendidikan berlangsung seumur hidup, (b) Lingkungan pendidikan, dimana pendidikan dapat berlangsung di lingkungan mana saja baik berupa lingkungan yang diciptakan untuk pendidikan maupun tercipta sendirinya, (c) Bentuk kegiatan, yaitu pendidikan yang lebih berorientasi pada peserta didik yang mempunyai beraneka ragam bentuk, pola, dan lembaga, dan (d) Tujuan, pendidikan terkandung tiap pengalaman belajar,  pertumbuhan, tidak terbatas. (Kaum Humanis Romantik)

b. Defenisi Sempit, Pendidikan adalah sekolah. Pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan ini memiliki karakteristik khusus, yaitu: (a) Masa pendidikan, pendidikan berlangsung dalam waktu yang terbatas, yaitu masa anak dan remaja, (b) Lingkungan pendidikan, pendidikan yang sengaja diciptakan khusus untuk menyelenggarakan pendidikan. secara tekniis, pendidikan yang berlangsung di kelas, (d) Tujuan, ditentukan oleh pihak luar, dimana tujuan pendidikan adalah mempersiapkan diri untuk hidup, (Kaum Behavioris)




Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Secara detail, dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 "Pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan  negara.

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu.

Berikut belajar menurut beberapa pandangan parah ahli........ NEXT


Monday, February 23, 2015

PERKEMBANGAN TEORI ATOM PART-2

4. Model Atom Ernest Rutherford (1910) dan Penemuan Neutron


Ernest Rutherford pada saat itu masih berfikir dan terus melakukan percobaan untuk menjawab lebih jauh pertanyaan bagaimanakah struktur atom itu ? Benarkah model atom yang dikemukakan oleh J.J. Thomson ? Tahun 1909, atas saran Rutherford, Hans Geiger dan Ernest Marsden melakukan penelitian.
Berdasarkan percobaan penembakan sinar alpha pada lempeng emas, dapat ditentukan bahwa diameter atom adalah sekitar 10-8 cm, sedangkan diameter inti sekitar (1-5).10-12 cm. di sekeliling inti.
Inti yang paling kecil dan paling sederhana adalah inti atom hidrogen, yang disebut proton. Inti hidrogen mempunyai muatan positif yang besarnya tepat sama dengan muatan elektron, tetapi massanya 1836 kali lebih besar dari massa elektron. Berdasarkan perhitungannyaRutherford juga dapat memperkirakan jumlah muatan inti untuk setiap atom unsur yang ditelitinya.
sekarang perhatikan data berikut:
  • Atom Hidrogen memiliki 1 buah proton, dan massanya sama dengan massa 1 proton
  • Atom Helium memiliki 2 proton, dan massanya sama dengan massa 4 proton

Jika dalam inti Helium hanya terdapat proton, seharusnya massa atom helium 2 kali massa proton. Gejala yang sama dimana massa atom hampir dua kali massa proton, juga terjadi pada unsur-unsur yang lain.
Mengapa hal itu terjadi ? selain proton, partikel apalagi yang terdapat dalam inti atom ? 
Berdasarkan fakta tersebut, pada tahun 1919 Rutherford menduga ada partikel lain dalam inti yang tidak bermuatan yang massanya hampir sama dengan massa proton. Ramalan Rutherford tersebut baru 12 tahun kemudian terbukti oleh James Chadwick. Dengan percobaan penembakan logam berilium dan boron oleh partikel alpha, ia menemukan adanya suatu partikel yang dilepaskan pada proses itu yang sifatnya berbeda dengan partikel alpha. Daya tembus partikel ini sangat tinggi, tetapi tidak dipengaruhi oleh medan magnet maupun listrik. 

5. Model Atom Niels H. Bohr (1922)


Model Atom Rutherford ternyata bertentangan dengan teori elektrodinamika klasik. Menurut teori ini, jika suatu partikel bermuatan listrik bergerak dengan kecepatan tertentu, maka partikel tersebut akan meradiasikan energi. Elektron (bermuatan negatif ) yang bergerak sekeliling inti akan kehilangan energi terus menerus karena radiasi sehingga akhirnya akan jatuh ke inti.
Bagaimana seandainya itu terjadi ?
Tentu atom itu jadi musnah. Artinya, semua zat, termasuk kita manusia, tidak akan ada karena tidak stabil. Keberadaan zat-zat di alam menunjukkan bahwa atom itu ada.
Jadi, seperti apa atom itu ? Di mana letak proton dan elektron ?
Kesulitan ini dapat diatasi oleh Bohr yang mengaplikasikan teori kuantum Planck pada model atom Rutherford. Menurut Planck energi yang dipancarkan akan diserap oleh zat tidak bersifat kontinu dan sembaran, tetapi dalam paket-paket energi tertentu yang disebut kuanta.


Berdasarkan teori kuantum dari Planck dan pengamatannya pada spektrum hidrogen, maka Bohr mengemukakan teori atom yang diringkaskan sebagai berikut:
  • Elektron bergerak mengelilingi inti atom dengan lintasan atau orbit yang berbentuk lingkaran. Lintsan yang diperlukan adalah lintasan dengan tingkat energi tertentu (lintasan kuantum). Hal ini mitip dengan sistem tata surya.
  • Tiap lintasan ditandai dengan bilangan kuantum utama (n), dengan n= 1,2,3,......dst. Lintasan yang paling dekat ke inti memiliki tingkat energi terendah dan disebut lintasan atau kulit K (n=1). Untuk tingkat energi lebih tinggi ( n = 2,3,4,....) diberi lambang berturut-turut L,M,N,.....dst.
  • Elektron yang bergerak pada lintasannya tidak akan melepaskan atau menyerap energi, keadaan ini disebut keadaan stationer
  • Jika elektron berpindah dari lintasan dengan tingkat energi lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah (misalkan dari E2 ke E1), maka akan terjadi radiasi sebesar E1-E2 = hv, h = tetapan Planck, v = frekuensi radiasi. Jika elektron berpindah dari tingkat energi lebih rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi, maka elektron akan menyerap energi

PERKEMBANGAN TEORI ATOM

1. Teori Atom Democritus


Dapatkah suatu materi dibagi secara terus menerus menjadi bagian yang lebih kecil dan lebih kecil lagi, ataukah ada suatu keadaan dimana materi tidak dapat dibagi lagi ?
Mari kita amati dua pandangan yang sangat berbeda tentang materi.
Kebanyakan filsuf, termasuk Plato dan Aristoteles, mempercayai bahwa materi dapat dibagi terus menerus tanpa batas. Akan tetapi ali filsuf lain yaitu Democritus berbeda pendapat.
"Democritus (460-370 SM) berpendapat bahwa materi disusun oleh bagian yang kecil, yaitu pertikel yang tidak dapat dibagi lagi. Partikel tersebut dinamakan atom yang berarti tidak dapat dibagi lagi". Pendapat Democritus ini dianggap salah sampai awal abad ke-19.
Saat ini pendapat Democritus tersebut dianggap benar, meskipun pada zamannya hanya sedikit golongan yang membenarkan pendapatnya. Selama 2000 hingga 300 tahun yang lalu para ilmuan melakukan penelitian sampai ditemukannya teori-teori mengenai struktur atom.

2. Teori Atom Dalton


Pada akhir abad ke-18, dalam rangka mempelajari reaksi kimia secara kuantitatif ditemukan Hukum Konservasi Massa (Laavoiser, 1774). Dalam usahanya untuk menerangkan hukum-hukum tersebut, John Dalton (seorang duru di Inggris) pada tahun 1803 mengemukakan hipotesis bahwa materi terdiri atas partikel-partikel kecil yang disebut atom. Menurut Dalton, atom adalah bola kaku yang tidak dapat dibagi lagi menjadi partikel yang lebih kecil. Hipotesis tersebut sejalan dengan pendapat Democritus bahwa materi disusun oleh partikel kecil yang tidak dapat dibagi lagi.
Berikut adalah teori atom yang dikemukakan oleh Dalton :
  • setiap unsur disusun oleh partikel-ppartikel kecil yang tidak dapat dibagi lagi, yang disebut atom.
  • setiap atom yang membentuk suatu unsur memiliki massa dan sifat yang sama, tetapi atom dari unsur yang berbeda memiliki massa dan sifat yang berbeda.
  • dalam suatu reaksi kimia atom-atom suatu unsur tidak berubah menjadi atom yang berbeda, dengan kata lain atom tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan secara reaksi kimia
  • senyawa terbentuk jika atom-atom dari beberapa unsur bergabung. senyawa yang terbentuk selalu memiliki jumlah relatif dan jenis atom yang sama.

3. Model Atom J.J. Thomson (1900)


1. Penemuan Sinar Katoda dan Elektron
Pada tahun 1879, William Crookes melakukan penelitian dalam suatu tabung hampa udara. Di kedua ujung tabung tersebut dimasukkan lempengan logam yang disebut elektroda. Saat elektroda dihubungkan pada sumber tegangan , satu lempeng menjadi bermuatan positif dan lempeng lainnya bermuatan negatif. Saat tegangan tinggi diberikan pada katoda (elektroda negatif) dan anoda (elektroda positif), muncul berkas sinar pada tabung.
Percobaan yang dilakukan dengan menggunakan tabung crookes memperlihatkan gejala-gejala ada sinar yang keluar dari katoda. sinarnya sendiri tidak bisa dilihat dengan mata. Akan tetapi, dengan bantuan zat yang dapat berfluoresens, jejak sinar yang keluar dari katoda dapat terdeteksi. Saat magnet diletakkan dekat tabung, berkas sinar dalam tabung akan dibelokkan. Crookes yakin bahwa sinar, yang saat ini disebut sebagai sinar katoda, terdiri atas partikel-partikel bermuatan.
Apakah sinar katode itu ? Partikel apakah yang ada dalam sinar katoda ? J.J. Thomson memperoleh jawabannya pada tahun 1897. Dia menunjukkan bahwa sinar katoda dibelokkan dalam medan magnet. Pada salah satu sisi tabung Crookes ditempatkan plat logam bermuatan positif, dan pada sisi yang berlawanan ditempatkan plat logam yang bermuatan negatif. Berkas sinar yang keluar, ditarik oleh plat positif dan ditolak oleh plat negatif.
Sebenarnya sinar katoda tidak dapat dilihat, tetapi jika digunakan tabung kaca yang dapat memendarkan sinar, maka sinar katoda akan dipendarkan dan tampak.
 
2.  Penemuan Sinar Terusan
Pada tahun 1886, seorang ilmuan Jerman bernama Eugen Goldstein melakukan penelitian lebih lanjut menggunakan tabung Crookes yang dimodifikasi. Plat katoda pada tabung Crookes dilubangi, dan tabung diisi dengan gas hidrogen bertekanan rendah.
Thomson dan Godstein telah berhasil membuktikan bahwa atom sebenarnya tersusun dari pertikel-partikel kecil yang lebih kecil. Yang menjadi permasalahan, bagaimana penataan partikel-partikel tersebut dalam suatu atom ? Tahun 1904 Thomson mengemukakan model atomnya yang disebut "roti kismis"
Dalam Teori Roti Kismisnya, J.J. Thomson menyatakan bahwa setiap atom terdiri atas sejumlah elektron yang bermuatan negatif dan sejumlah muatan positif yang sama dengan muatan negatifnya sehingga atom bermuatan netral. Dia berpendapat bahwa muatan positif membentuk sebuah "atmosfir" yang ditempati sejumlah elktron-elektron, seperti kismis dalam roti kismis.

Sunday, February 22, 2015

TEORI KINETIKA GAS (Kimia Fisika II)

Pengamatan perilaku gas pada berbagai kondisi oleh Boyle, Gay Lussac dan Avogadro menghasilkan data yang dapat dirumuskan menjadi Hukum. Hukum-hukum ini tidak bergantung pada setiap teori tentang hakikat gas.
Untuk dapat menerangkan perilaku gas telah dikemukakan suatu teori yang dikenal sebagai "Teori Kinetika Gas". Teori ini untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Bernaulli (1738), yang mempostulatkan dimana gas diandaikan bahwa molekul-molekul gas selalu bergerak dengan cepat ke segala arah dan bahwa tumbukannya dengan dinding mudah menimbulkan tekanan gas.

1. Model Gas Ideal

Model ini didasarkan atas beberapa postulat sebagai berikut:
  1. Gas terdiri dari sejumlah partikel-partikel kecil atau molekul yang bergerak cepat ke segala arah dan saling bertumbukan dan bertumbukan dengan dinding wadah.
  2. Tumbukan antara molekul bersifat kenyal atau elastis sempurna, artinya walaupun pada tumbukan itu terjadi perpindahan energi tetapi energi kinetik total molekul tidak berubah (tetap).
  3. Tidak ada gaya tarik menarik antara molekul-molekul dan antara molekul dengan dinding wadah.
  4. Volume total molekul cukup kecil dibanding terhadap volume wadah kubus, sehingga dapat diabaikan.
  5. Energi kinetik rata-rata molekul berbanding dengan suhu mutlak. 
Berdasarkan postulat ini, dapat diturunkan suatu persamaan yang memungkinkan perhitungan tekanan gas dari sifat-sifat dasar molekul.

Perhatikan sebuah wadah berbentuk kubus dengan panjang rusuk l dan mengandung N molekul gas. Sebuah molekul dengan massa (m) yang bergerak dengan kecepatan (v) dapat diuraikan kecepatan dengan Vx, Vy, dan Vz. Molekul yang bergerak dengan arah sumbu x kecepatan Vx bertumbukan dengan yz dengan momentum mVx. Setelah bertumbukan, molekul bergerak kearah yang berlawanan dengan kecepatan -Vx dan momentum -mVx. Perubahan momentum yang terjadi pada 1 kali tumbukan adalah 2mVx.

Jumlah tumbukan sama dengan kecepatan per detik : Vx/2l
Perubahan momentum per detik per molekul adalah momentum kali jumlah tumbukan :

Perubahan momentum = 2mVx . Vx/2l -----------------> l adalah jarak (L)
                                   = mVx / l
Karena ada 2 dinding yz, maka perubahan momentum per molekul per detik adalah :

2mVx(kuadrat) / l    ---------------------> jika 1 susmbu yaitu sumbu x

jika gas ke seluruh arah maka perubahan momentum per molekul per detik :
2mVx(kuadrat) / l + 2mVy(kuadrat) / l + 2mVz(kuadrat) / l = 2mVN(kuadrat) / l

jika kadar adalah N molekul
= 2mV1(kuadrat) / l + 2mV2(kuadrat) / l + 2mV3(kuadrat) / l + .......2mVN(kuadrat) / l
= 2mN / l . (V1(kuadrat)+V2(kuadrat)+V3(kuadrat)+......+VN(kuadrat) )

= 2mNVrata-rata (kuadrat) / l

To be continued......

Monday, April 29, 2013

Teknik Pemurnian

A. Judul Percobaan
            “Teknik Pemurnian
B. Tujuan Percobaan
            Pada akhir percobaan mahasiswa diharapkan  mampu memahami dan terampil dalam:
1.      Melakukan destilasi untuk pemisahan dan pemurnian
2.      Mengkalibrasi dan mengoreksi pembacaan thermometer
3.      Merangkai peeralatan destilasi terfraksi dan destilasi vakum
4.      Memisahkan campuran azeotrop
5.      Melakukan rekristalisasi dengan baik
6.      Memilih pelarut yang sesuai untuk rekristalisasi
7.      Menjernihkan dan menghilangkan warna larutan
8.      Membaca titik leleh pada thermometer
9.      Membedakan campuran dari senyawa murni dari senyawa titik lelehnya.
C. Landasan Teori
            Destilasi pertama kali ditemukan oleh kimiawan yunani sekitar abad pertama masehi yang akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh tingginyapermintaan akan spiritus. Hypathia dari Alexanderia dipercaya telah menemukan rangkaian alat untuk destilasi pada sekitar abad ke-4. Bentuk modern destilasi pertama kali dtemukan oleh ahli-ahli kimiapada kekhalifaan Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alcohol menjadi senyawa yang relative murni melalui alat alembik.(Anonim,2010)
            Dasar pemisahan pada destilasi adalah perbedaan titik didih cairan pada tekanan tertentu. Pemisahan dengan destilsi melibatkan penguapan diferensial dari suatu campurancairan diikuti dengan penampungan material yang menguap dengan cara pendinginan dan pengembunan. Beberapa teknik destilasi lebih cocok untuk pekerjaan-pekerjaan preparative dilaboratorium dan industri. Sebagai contoh adalah pemurnian alcohol, pemisahan minyak bumi menjadi fraksi-fraksinya , pembuatan minyak atsiri dan sebaganya (Soebagio dkk: 2000:24)
            Dalam proses destilasi terkadang terdapat gangguan sehingga hasil destilasi tidak maksimal. Salah satunya adalah azeotrop, merupakn campuran dua atau lebih komponen yang memiliki titik didih konstan. Komposisi dari azeotrop tetap konstan dalam pemberian atau penambahan tekanan. Akan tetapi ketika tekanan total berubah, kedua titik didih dan komposisi dari azeotrp berubah. Sebagai akibatnya, azeotrop bukanlah komponen tetap, yang komposisinya harus tetap konstan dalam interval suhu dan tekanan tetapi lebih ke campuran yang dihasilkan dari saling mempengaruhi dalam kekuatan intramolekuler dalam larutan. Azeotrop dapat didestilasi dengan menggunakan tambahan pelarut tertentu, misalnya penambahan benzene atau toluene untuk memisahkan air. Air dan pelarut akan ditangkap oleh penangkap  Dean Sterk, air akan tetap tinggal di dasar penangkap dan pelarut akan kebali ke campuran dan memisahkan air lagi. (Anonim,2010)
            Ada beberapa macam jenis-jenis destilasi salah satunya adala destilasi bertingkat (fraksionasi).Salah satu campuran yang dipisahkan dengan cara isi adalah etanol dan air. Titik didih air dan etanol masing-masing adalah 78C dan 100C. Larutan dipanaskan pada suhu sekitar78C hingga mendidih dan menguap. Uap yang ada dalam labu terdiri dari uap etanol bercampur dengan sedikit uap air. Kemudian campuran uap tersebut naik ke kolom fraksinasi dan menentuh plat paling bawah. Disana terjadi pengembunan dan sebagian tetesan-tetesan air turun kembali kedalam labu. Sedangkan etanol yangtitik didihnya lebih rendah mendidih kembali.. Akibatnya, terbentuk uap etanol yang lebih murnidan naik ke plat berikutnya, peristiwa berikut terus berulang sampai pada plat terakhir, sehingga dihasilkan uap etanol yang lebih murni. Akhirnya uap etanol masuk ke dalam kondensor dan mengembang menjadi tetes-tetes etanol yang ditampung dalam satu wadah. Jika semua alcohol didestilasi keluar, suhu yang terbaca pada thermometer segera naik menuju 100C. Hal ini menandakan bahwa uap air telah naik ke kondensor dan segera menetes. Tetesan air ini dapat ditampung dalam wadah yang lain. (Goldberg, 2004:47-48).
            Menurut Anonim (2010), terdapat beberapa defenisi tentang rekristalisasi, yang merupakan salah satu teknik pemurnian selain destilasi:
1) Suatu proses dimana butir logam yang terdeformasi digantikan oleh butiran baru yang tidak terdeformasi yang intinya tumbuh sampai butiran asli termaksud di dalamnya.
2) Perubahan struktur Kristal akibat pemanasan pada suhu kritis
3) Terbentuknya struktur butiran baru melalui tumbunya inti dengan pemanasan. Besarnya suhu rekristalisasi adalah setengah sampai dengan sepertiga dari suhu logam.
            Kristal adalah benda padat yang mempunyai permukaan-permukaan datar. Karena banyak zat padat seperti garam, kuorsa, dan salju ada dalam bentuk jelas-jelas simetris, telah lama para ilmuwan menduga bahwa para atom, ion ataupun molekul zat padat ini mempunyai atau juga tersusun secara simetris. Oleh karena itu rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak digunakan, dimana zat-zat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali. Cara ini bergantung pada kelarutan zat dalam pelarut tertentu dikala suhu diperbesar. Karena konsentrasi total impurity biasanya lebih kecil dari konsentrasi zat-zat yang dimurnikan, bila dingin, maka konsentrasi impurity yang rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap. (Anonim,2010)
D. Alat dan Bahan
             Alat Destilasi
1.    1 set alat destilasi Rekristalisasi
1.    Corong tak bertangkai 0,5 cm
2.    Corong Buchner
3.    Labu erlenmeyer (2 buah)
4.    Labu isap 150 ml
5.    Gelas piala 100 ml
6.    Labu semprot
7.    Pembakar spiritus
8.    Gelas ukur 25 ml
9.    Kasa asbes dan kaki tiga
10. Penjepit kayu
11. Pengaduk
12. Tabung reaksi besar
            Penentuan titik leleh
1.    Alat thiele
2.    Blok logam
3.    Alat kafler
4.    Pipa kapiler
5.    Termometer 0-310C
6.    Labu semprot
7.    Pembakar spiritus
            Kalibrasi Termometer
1.    Termometer 100C
2.    Gelas kimia
3.    Pembakar spiritus
1.    b. Bahan
            Destilasi
1.    Etanol 95%
2.    Air
3.    Tissue
            Rekristalisasi
1.    Kertas saring whatman
2.    Asam benzoate
3.    Aquades
            Penentuan titik leleh
1.    Perafin
2.    Urea
3.    Asetanida
4.    Asam benzoate
5.    Asam sinamat
            Kalibrasi thermometer
1.    Air es
2.    Air mendidih
E. Cara Kerja
            a. Kalibrasi Termometer
1.    Titik nol thermometer dites dengan cara thermometer dimasukkan dalam campuran ai es yang diaduk homogeny sampai mencapai titik 0°C.
2.    Titik 100 termometer dites, dengan cara thermometer dimasukkan dalam air yang dipanaskan sampai mendidih hingga mencapai titik 100°C.
            b. Destilasi Biasa
1.    Mengisi labu destilasi dengan campuran 20 ml etanol 95% dan 20 ml air
2.    Melakukan destilasi, dan mencatat suhu serta volume hasil destilasi
            c. Rekristalisasi
1.    Dimasukkan ke dalam gelas kimia 1 gram Kristal asam benzoat dan 1 ml aquades
2.    Mengaduk campuran dan memanaskan di atas pembakar Bunsen hingga mendidih
3.    Sambil dipanaskan, menambahkan 1 ml aquades hingga volumenya mencapai 25 ml
4.    Setelah larut, selagi panas disaring pada corong Buchner yang telah dilengkapi engan kertas saring whatman
5.    Mendinginkan kemudian menyaringnya kembali
           

d. Penentuan titik leleh
1.    Tabung kapiler disiapkan dengan cara dipanaskan salah satu lubangnya hingga tertutup
2.    Ke dalam tabung kapiler yang berbeda, masing-masing dimasukkan urea dan asam benzoate
3.    Ke dua tabung kapiler tersebut dimasukkan dalam blok logam pada alat thiele  dan trayek leleh ke dua zat tersebut dicatat
4.    Campuran asam benzoate dan urea dibuat dengan perbandingan 1:4, 1:1, dan 4:1
5.    Campuran dihomogenkan dengan cara dicampur lalu dimasukkan ke dalam  tabung kapiler dan dicatat trayek leleh ketiga campuran tersebut
6.    Zat uknown yang diberikan asisten dimasukkan ke dalam tabung kapiler dan ditentukan titik lelehnya
F. Hasil Pengamatan
1.    Kalibrasi Termometer
Mengecek termometer  pada air es  0°c
Mengecek termometer  pada air mendidih  100°c
2.    Destilasi.
20 ml etanol 95 % + 20 ml air       destilasi        14 ml etanol
                                                                                  78°c
3.    Penentuan titik leleh,
     Urea = 129-130°c
     Sinamat = 129-130°c
Sinamat : Urea  4 : 1 = 108-113°c
Sinamat : Urea  1 : 4 = 113-119°c
Sinamat : Urea  1 : 1 = 100- 108°c
Zat Unknown = 118-122°c
4.    Rekristalisasi.
            1 gram asa benzoat + 1 ml H2O   dipanaskan         bening + 1 ml H2O
                                           ( penambahan 1 ml H2O terus menerus sampai volume 25 ml sambil dipanaskan )
   larut      disaring      larutan bening  didinginkan Kristal air  kristal = 1,8 gram
                      Corong bucher
G. Analisis Data
            Rekristalisasi
Massa sebelum rekristalisasi = 1 gram
Massa setelah rekristalisasi = 1,8 gram
            % rendamen asam Benzoat =
                                                        =
H. Pembahasan
            Pada percobaan ini, dilakukan kalibrasi pada thermometer yang akan digunakan. Hal ini dimaksudkan agar thermometer yang digunakan untuk percobaan-percobaan selanjutnya sesuai dengan standar pengukuran yang ditetapkan. Dengan kalibrasi, bisa diketahui seberapa jauh perbedaan (penyimpangan) antara harga benar dengan harga yang ditunjukkan oleh alat ukur. Dalam percobaan diperoleh hasil kalibrasi yang sesuai dengan standar pengukuran untuk thermometer. Dimana hasil percobaan yang diperoleh untuk titik nol thermometer = 0°C, dan untuk titik nol thermometer =100°C  
Destilasi
            Pada percobaan ini, dilakukan pemisahan atau pemurnian suatu senyawa campuran antara etanol dan air. Dasar pemisahan atau pemurnian dalam proses destilasi ialah perbedaan titik didih campuran pada tekanan tertentu, yang dimana titik didih etanol adalah 78°C dan air sebesar 100°C. Disaat melakukan pemanasan ditambahkan batu didih untuk mengurangi adanya letupan-letupan akibat pemanasan, letupan dapat dikurangi karena adanya pori-pori kecil dari batu didih sehingga gelombang yang keluar saat pemanasan itu kecil.
            Pada proses destilasi yang dilakukan larutan mendidih pada suhu 78°C, yang akan menguap pada suhu ini adalah etanol karena titik didih adalah 78°C. Uapnya kemudian melewati kondensor yang berfungsi sebagai pendingin sehingga diperoleh destilat dalam bentuk cairan. Destilat yang diperoleh pada percobaan sebesar 14 ml (etanol), yang dimana pada proses destilasi suhu dijaga atau diaur agar konstan pada suhu 78°C, karena jika berlebih yang keluar sebagai destilat bukanlah etanol tetapi campuran air dan etanol.
Rekristalisasi
            Dalam pecobaan ini, digunakan 1 gram asam benzoate dalam wujud padat (kristal), kemudian dilarutkan dalam 1 ml aquades kemudian dipanaskan sampai Kristal benar-benar larut. Saat pemanasan dilakukan penambahan 1 ml aquades hingga volumenya 25 ml bertujuan juga agar Kristal asam benzoate dapat larut sempurna. Kemudian disaring dengan menggunakan corong Buchner selagi panas untuk memisahkan partikel yang tidak larut, penggunaan corong buchaner yang dilengkapi kertas whatman lebih praktis dan efisien serta dengan alat hisap, sehingga waktu yang digunakan  lebih sedikit, kemudian setyelah itu mendinginkan larutan sehingga diperoleh Kristal. Setelah menjadi Kristal disaring lagi untuk memisahkan zat terlarut yang menyertainya, dan setelah disaring kemudian dikeringkan dan ditimbang. Hasil yang diperolh pada percobaan ini sebesar 1,8 gram tentunya hasil ini tidak sesuai dengan teori, bukannya memisahan zat pengotornya tapi membuatnya bertambah tidak murni. Ada beberapa hal yang menyebabkan ini:
1.    Jauhnya lokasi atau sulitnya dijangkau tempat untuk menggunakan corong Buchner disertai alat penghisap sehingga larutan yang telah dipanaskan lebih dulu kembali mengkristal
2.    Perbedaan berat kertas saring whatman yang digunakan sehingga mempengaruhi atau menambah bobot Kristal
3.    Kurangnya ketelitian praktikan dalam melakukan penimbangan
5.    Penentuan Tititk Leleh
            Percobaan ini menggunakan zat padat urea dan asam sinamat. Berdasarkan percobaan trayek lelehnya adalah129-130°C untuk urea sedangkan untuk asam sinamat 129-130°C hasiul ini tidak sesuai dengan teori, menurut teori titik leleh urea dan asam sinamat berturut adalah 132,5-133°C dan 132-133°C. Hal ini disebabkan karena kurangnya ketelitian praktikan dalam mengamati suhu pada thermometer.
            Untuk penentuan titik leleh campuran, urea dan asam sinamat dicampur dengan perbandingan 4:1, 1:4, dan 1:1. Kemudian zat padat campuran tersebut dimasukkan ke dalam pipa kapiler dengan cara menotolkannya pada zat padat campuran, lalu dimasukkan ke dalam thile  dengan merekatkannya pada thermometer. Perbandingan 4:1 asam sinamat dan urea diperoleh titik leleh 108-113°C. Pada perbandingan 1:4 asam sinamat dan urea diperoleh titik leleh 113-119°C, pada perbandingan 1:1 asam sinamat dan urea diperoleh titik leleh 100-108°C.
            Campuran-campuran di atas dengan perbandingan yang berbeda-beda, titik lelehnya juga berbeda-beda jaraknya. Campuran tersebut tidak meleleh dengan tajam karena adanya pengotoran yang menyebabkan penurunan titik leleh itu mungkin suatu bahan berbentuk resin yang tidak didentifikasi. Apabila titik leleh campuran sama dengan titik leleh senyawa baku berarti senyawa yang tidak diketahui itu sama dengan senyawa baku tersebut. Hal ini berarti cmpuran-campuran tersebut tidak murni karena suhunya tidak tetap selama meleleh (titik leleh yang tidak tajam).
            Pada penentuan titik leleh zat uknown, yang diberikan oleh asisten zat tersebut mulai meleleh pada suhu 118°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 122°C. Sehingga trayek leleh yang dperoleh 1118-122°C.
I.Kesimpulan
            Dari hasil percobaan, maka dapat ditarik kesimpulan:
1.    Suhu larutan etanol-air mendidih pada suhu 78C, dan diperoleh hasil destilat sebanyak 14 ml
2.    Rekristalisasi merupakan suatu teknik pemisahan campuran dan pengotornya dengan cara mengkristalkan kembali pelarutnya.Nilai rendemen asam benzoate yang diperoleh sebesar  180%, dan nilai ini iperoleh tidak sesuai dengan teori karena kurangnya ketelitian praktikan.
3.    Titik leleh adalah suu dimana senyawa tersebut mulai meleleh hingga meleleh seluruhnya. Senyawa murni suhunya hamper teteap selama meleleh atau disebut titik leleh yang tajam.
J. Saran
            Disarankan kepada praktikan agar lebih menguasai prosedur kerja, agar hasil yang diperoleh sesuai dengan teori.

DAFTAR PUSTAKA
            Anonim. 2010. Http:// id. Wikipedia. Org/ wiki/ Destilasi. Diakses pada                     tanggal 8 Mei 2010
            Anonim. 2010. Http:// id. Wikipedia.Org/ wiki/ Rekristalisasi. Diakses                        pada tanggal 8 Mei 2010
            Anonim. 2010. Http:// ansuanfushie. Wordpress. Com/ Teknik                                  Pemurnian/ PEMURNIAN BAAHNBAHAN MELALUI                                                PEMISAHAN//.Diakses pada tanggal 8 Mei 2010.
            Goldberg, david. 2004. Sains Kimia SMP Jilid II. Jakarta: Erlangga.
            Soebagio,dkk. 2000. Kimia Analitik II. Malang: Universitas Negeri                            Malang.